Beranda › Blog › Regulasi & Kepatuhan
Apakah Hasil MCU Bersifat Rahasia? Hak Karyawan dan Batas Akses HR
Hasil MCU bersifat rahasia medis. Pahami data apa yang boleh dilihat HR, apa yang hanya milik karyawan dan dokter, serta dasar hukumnya di Indonesia.
Pertanyaan ini hampir selalu muncul dua kali. Pertama dari karyawan yang khawatir kondisi medisnya diketahui satu kantor, lalu dari HR yang bingung sejauh mana ia boleh membuka berkas. Padahal, keduanya menanyakan hal yang sama dari sisi berlawanan.
Yang dibahas:
- Status hukum hasil MCU sebagai data yang dilindungi
- Batas tegas antara data kelayakan kerja dan data diagnosis
- Siapa saja yang boleh mengakses apa, dalam bentuk tabel
- Praktik pengelolaan yang membuat perusahaan tetap patuh
Hasil MCU Adalah Data Kesehatan yang Dilindungi
Jawaban singkatnya, ya. Hasil MCU bersifat rahasia, dan status itu tidak berubah hanya karena perusahaan yang membayar pemeriksaannya.
Ada tiga lapis perlindungan yang berlaku bersamaan di Indonesia:
- Rahasia medis melekat pada hubungan dokter dan pasien, dan tetap berlaku meski pemeriksaan diselenggarakan oleh perusahaan
- Rekam medis diatur kerahasiaannya dalam Permenkes Nomor 24 Tahun 2022 tentang Rekam Medis
- Data pribadi spesifik, karena UU Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi menggolongkan data kesehatan sebagai kategori spesifik dengan syarat pemrosesan lebih ketat
Lapis ketiga inilah yang paling sering terlewat. Sejak UU PDP berlaku, perusahaan tidak lagi berdiri sebagai pihak netral yang sekadar menerima laporan. Perusahaan berperan sebagai pengendali data dan ikut memikul tanggung jawab atas cara data itu disimpan.
Akibatnya langsung terasa dalam praktik. Berkas MCU di folder bersama yang bisa dibuka seluruh tim HR sudah bermasalah, bahkan sebelum ada insiden apa pun.
Batas Antara Kelayakan Kerja dan Diagnosis
Kunci seluruh persoalan ini terletak pada satu pembedaan. Perusahaan berkepentingan atas kelayakan kerja, bukan atas diagnosis.
Kelayakan kerja menjawab satu pertanyaan tunggal, yaitu apakah karyawan ini aman menjalankan tugas di posisinya. Diagnosis menjawab pertanyaan yang sama sekali berbeda, yaitu penyakit apa yang diderita seseorang.
| Informasi | Karyawan | Dokter pemeriksa | HR atau perusahaan |
|---|---|---|---|
| Status kelayakan kerja | Ya | Ya | Ya |
| Rekomendasi penempatan dan pembatasan tugas | Ya | Ya | Ya |
| Anjuran kontrol atau rujukan | Ya | Ya | Sebatas ada atau tidaknya |
| Angka laboratorium per parameter | Ya | Ya | Tidak |
| Diagnosis penyakit spesifik | Ya | Ya | Tidak |
| Riwayat kesehatan dan hasil anamnesa | Ya | Ya | Tidak |
Perhatikan baris ketiga. Artinya, HR perlu tahu bahwa ada tindak lanjut yang harus dipantau, tanpa perlu tahu penyakit yang mendasarinya. Cara menindaklanjuti status tanpa membuka diagnosis dibahas di cara HR menindaklanjuti hasil MCU.
Pemisahan ini jauh lebih mudah dijaga kalau sistemnya memang membedakan hak akses per peran, bukan mengandalkan kedisiplinan membuka berkas. Pelajari lebih lanjut →
Kesalahan yang Paling Sering Terjadi
Pelanggaran kerahasiaan MCU jarang berupa kebocoran dramatis. Justru bentuknya hampir selalu kebiasaan kerja yang terlihat wajar.
- Mengirim satu berkas PDF berisi hasil lengkap seluruh karyawan ke grup pesan tim HR
- Menyimpan hasil MCU di drive bersama tanpa pembatasan akses per folder
- Meneruskan hasil individual ke atasan langsung dengan alasan koordinasi penempatan
- Menyebut penyebab medis saat menjelaskan keputusan penempatan ke tim
- Menyimpan berkas MCU lama tanpa batas waktu, bertahun-tahun setelah karyawan resign
Penting: poin kelima paling sering diabaikan. UU PDP mensyaratkan data tidak disimpan lebih lama dari keperluannya. Karena itu, perusahaan perlu punya kebijakan retensi yang jelas untuk berkas MCU dan tidak menyimpan semuanya selamanya.
Kesalahan pertama layak disorot tersendiri. Pasalnya, satu berkas gabungan berisi hasil semua peserta mustahil dibatasi aksesnya, karena membukanya berarti membuka data semua orang sekaligus.
Cara Menjaganya Tanpa Melumpuhkan Kerja HR
Kepatuhan sering dikira berarti HR jadi tidak bisa bekerja. Padahal, pembatasan menyeluruh tidak diperlukan. Kuncinya ada pada pemisahan yang tepat.
- Pisahkan laporan agregat dari berkas individual. HR memerlukan gambaran populasi, misalnya berapa persen karyawan bertekanan darah tinggi, dan itu tidak memerlukan identitas siapa pun
- Berikan akses berkas individual hanya kepada dokter perusahaan atau tenaga kesehatan yang berwenang
- Sampaikan hasil individual langsung ke karyawan yang bersangkutan tanpa melalui atasannya
- Catat siapa membuka berkas siapa, karena UU PDP menuntut akuntabilitas dan niat baik saja tidak cukup
- Tetapkan masa simpan berkas dan jalankan penghapusannya secara berkala
Sementara itu, laporan agregat untuk manajemen bisa disusun tanpa satu pun nama, seperti dijelaskan di executive summary hasil MCU. Kewajiban HR lainnya yang berkaitan diuraikan di compliance MCU karyawan.
Selain itu, ketidakjelasan batas akses menjadi salah satu alasan sebagian karyawan enggan ikut, seperti dibahas di 7 alasan karyawan malas ikut MCU.
Lain halnya dengan pertanyaan apakah dokumen hasil yang diserahkan pelamar benar diterbitkan faskes yang tertera. Jawabannya ada di 5 cara HR memverifikasi keaslian hasil MCU.
Tanya Jawab
Apakah hasil MCU bersifat rahasia?
Ya. Hasil MCU termasuk rekam medis yang dilindungi kerahasiaannya. Selain itu, UU Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi menggolongkan data kesehatan sebagai data pribadi bersifat spesifik. Karena itu, perusahaan tidak berhak menerima seluruh isinya.
Apa yang sebenarnya boleh dilihat HR dari hasil MCU?
HR pada umumnya hanya berhak menerima kesimpulan kelayakan kerja, misalnya fit, fit with note, atau unfit, beserta rekomendasi penempatan. Diagnosis rinci dan angka laboratorium per parameter bukan bagian yang perlu diakses HR.
Apakah karyawan berhak meminta salinan hasil MCU miliknya sendiri?
Berhak. Peserta adalah pemilik data kesehatannya sendiri dan dapat meminta salinan hasil pemeriksaannya kepada penyelenggara MCU. Hak ini tidak gugur meskipun biaya MCU dibayar oleh perusahaan.
Bolehkah perusahaan membagikan hasil MCU ke atasan langsung karyawan?
Tidak, kecuali sebatas informasi kelayakan kerja yang memang diperlukan untuk penempatan. Atasan cukup mengetahui apakah karyawan boleh bekerja dan pembatasan tugas apa yang berlaku. Penyebab medisnya tidak perlu disampaikan.
Apa risiko hukum jika hasil MCU bocor?
Kebocoran data kesehatan dapat memicu sanksi berdasarkan UU Pelindungan Data Pribadi, di samping tuntutan perdata dari karyawan. Tanggung jawab itu tidak hanya ada pada pihak klinik, karena perusahaan sebagai pengendali data ikut menanggungnya.
Pada akhirnya, kerahasiaan MCU lebih ditentukan oleh arsitektur sistem daripada kehati-hatian perorangan. Selama hasil beredar sebagai berkas yang bisa diteruskan siapa saja, tidak ada kebijakan yang benar-benar bisa ditegakkan.
Aksesmedika memisahkan akses berdasarkan peran, sehingga HR melihat status kelayakan dan laporan agregat perusahaannya. Sementara itu, detail diagnosis dan angka laboratorium hanya terbuka bagi dokter pemeriksa dan peserta yang bersangkutan.
Sumber
- UU No. 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi
- Permenkes No. 24 Tahun 2022 tentang Rekam Medis
Pastikan dokumentasi MCU perusahaan siap saat diaudit
Riwayat pemeriksaan, status tindak lanjut, dan laporan tersimpan rapi per karyawan.