Beranda › Blog › Panduan MCU

· 5 menit baca · Kania Rahayu

Kesehatan Mental Karyawan: Gap Terbesar Ada di Skrining, Bukan Konseling

Data Mercer Marsh Benefits 2025: skrining kesehatan mental karyawan paling dibutuhkan sekaligus paling jarang disediakan. Ini cara menutup gapnya lewat siklus MCU.


Kesehatan Mental Karyawan: Gap Terbesar Ada di Skrining, Bukan Konseling

Banyak perusahaan menjawab isu kesehatan mental dengan menambah kanal konseling. Datanya menunjukkan yang paling dibutuhkan karyawan justru satu langkah sebelum itu, yaitu skrining untuk mengetahui siapa yang sedang tidak baik-baik saja.

Yang dibahas:

  • Benefit kesehatan mental mana yang gapnya paling lebar menurut data pasar
  • Kenapa urutan skrining lebih dulu, konseling kemudian, bukan sebaliknya
  • Kaitan antara stres kerja dan niat pindah karyawan
  • Cara menempelkan skrining ke siklus MCU yang sudah berjalan

Data: Yang Dibutuhkan Karyawan vs Yang Disediakan Perusahaan

Laporan Indonesia Health Benefits Study 2025 dari Mercer Marsh Benefits mengumpulkan data dari lebih dari 400 organisasi dan 500 ribu jiwa peserta lintas 25 industri di Indonesia. Salah satu bagiannya membandingkan benefit kesehatan mental yang dinilai membantu oleh karyawan dengan yang benar-benar disediakan perusahaan.

Benefit kesehatan mentalDinilai membantuDisediakanSelisih
Skrining untuk mengidentifikasi masalah38%22%16 poin
Layanan menjaga kesehatan otak32%18%14 poin
Program penurun biaya pengobatan mental36%23%13 poin
Layanan untuk anak, remaja, dan orang tua33%20%13 poin
Dukungan kondisi neurodivergen31%19%12 poin
Pelatihan mengenali masalah kesehatan mental36%25%11 poin
Selisih Kebutuhan dan Ketersediaan Benefit Kesehatan Mental
Skrining, gap terlebar sekaligus kebutuhan tertinggi Benefit kesehatan mental lain
Skrining kesehatan mental 16 poin Kesehatan otak 14 poin Penurun biaya pengobatan 13 poin Layanan keluarga 13 poin Dukungan neurodivergen 12 poin Pelatihan pengenalan 11 poin
Sumber: Mercer Marsh Benefits, Indonesia Health Benefits Study 2025

Skrining menempati dua posisi teratas sekaligus. Ia paling banyak dinilai membantu, dan sekaligus menyisakan selisih terlebar dengan yang disediakan.

Kenapa Skrining Duluan, Bukan Konseling

Konseling adalah layanan yang menunggu. Ia bekerja hanya untuk karyawan yang sudah menyadari kondisinya dan bersedia datang sendiri.

Di lingkungan kerja yang stigmanya masih kuat, kelompok itu jumlahnya kecil. Akibatnya anggaran yang sudah keluar terpakai oleh orang yang sama berulang kali, sementara mayoritas yang berisiko tidak pernah tersentuh.

Skrining membalik arah alurnya:

  • Menjangkau semua peserta, bukan hanya yang berinisiatif datang
  • Menghasilkan angka, sehingga tingkat risiko bisa dibandingkan antar unit kerja dan antar tahun
  • Memberi alasan yang netral untuk merujuk, karena rujukan berangkat dari hasil, bukan dari penilaian atasan

Kerangka ini sejalan dengan pembagian layanan EAP yang lazim dipakai, yaitu memprediksi risiko, mencegah, lalu menangani. Menurut laporan yang sama, 48% perusahaan di Indonesia sudah memasukkan Employee Assistance Program dalam dukungan well-being mereka.

Aksesmedika memasukkan kuesioner skrining ke dalam alur anamnesa MCU, sehingga tidak perlu acara terpisah. Pelajari lebih lanjut →

Stres Kerja dan Ongkos Diamnya pada Retensi

Bagian ini yang biasanya mengubah arah pembicaraan di ruang direksi. Laporan MMB menemukan 45% karyawan menyatakan sedang aktif mencari pekerjaan di perusahaan lain.

Perbandingan berikutnya lebih tajam. Di antara mereka yang sedang mencari kerja, 62% merasa stres hampir setiap hari di tempat kerja. Pada kelompok yang tidak sedang mencari, angkanya hanya 24%.

Penting: selisih 38 poin persentase itu tidak membuktikan arah sebab akibat. Yang bisa disimpulkan adalah stres kerja dan niat pindah bergerak beriringan dengan sangat erat. Bagi perusahaan, biaya penggantian satu karyawan berpengalaman biasanya jauh melampaui biaya menambahkan satu kuesioner skrining ke MCU tahunan.

Emotional well-being juga menempati prioritas intervensi tertinggi 12 bulan ke depan dengan 25%, mengungguli physical well-being di 19%.

Pembedaan program menurut kelompok karyawan, termasuk dasar datanya, dibahas di program kesehatan karyawan untuk pria dan wanita.

Menempelkan Skrining ke Siklus MCU yang Sudah Berjalan

Kabar baiknya, perusahaan tidak perlu membangun program baru dari nol. Siklus MCU tahunan sudah menyentuh seluruh karyawan sekali setahun, dan itu titik tempel yang paling murah.

  1. Sisipkan kuesioner di tahap anamnesa, bukan sebagai sesi tersendiri yang butuh kehadiran ulang
  2. Pakai instrumen yang sudah dikenal di Indonesia, misalnya SRQ-20 yang cara skoringnya dibahas di SRQ-20 sebagai kuesioner skrining
  3. Tetapkan ambang rujukan lebih dulu, supaya tindak lanjut tidak diputuskan kasus per kasus
  4. Kunci hak aksesnya, sehingga HR menerima gambaran agregat dan tenaga kesehatan yang memegang skor per orang
  5. Sambungkan ke jalur tindak lanjut yang sudah ada, mengikuti pola di SOP tindak lanjut MCU

Langkah keempat yang paling menentukan keberhasilannya. Skrining yang hasilnya bisa dibaca atasan langsung akan diisi tidak jujur, dan datanya kehilangan nilai sejak hari pertama. Batas akses yang wajar diuraikan di kerahasiaan hasil MCU karyawan.

Catatan: cakupan asuransi belum tentu mengikuti. Laporan MMB mencatat baru 18% perusahaan di Indonesia yang memperluas cakupan medis untuk pengobatan penyakit mental, dan 56% penanggung belum dapat menyediakannya. Skrining tetap berguna, tetapi jalur rujukannya perlu disiapkan realistis sesuai cakupan yang ada.

Penempatan isu ini dalam rangkaian program yang lebih luas dibahas di cara menyusun program kesehatan karyawan.

Kalau tingkat stres kerjanya sudah terlanjur tinggi, bentuk programnya beserta kelompok sasaran tiap komponen diuraikan di 5 komponen program kesehatan mental karyawan.

Tanya Jawab

Kenapa skrining kesehatan mental lebih mendesak daripada menambah sesi konseling?

Karena konseling hanya menjangkau orang yang sudah datang sendiri. Skrining berfungsi menemukan karyawan yang berisiko tetapi belum pernah mencari bantuan. Tanpa lapisan itu, layanan yang sudah dibayar perusahaan cenderung dipakai oleh kelompok yang sama berulang kali.

Apakah skrining kesehatan mental bisa digabungkan ke MCU tahunan?

Bisa, dan itu jalur yang paling hemat. Kuesioner skrining seperti SRQ-20 diisi saat anamnesa, sehingga tidak perlu mengadakan acara terpisah. Yang perlu dijaga adalah kerahasiaan hasilnya dan jalur rujukan setelahnya.

Apakah hasil skrining kesehatan mental boleh dilihat HR?

Tidak dalam bentuk rinci. Yang wajar diterima HR adalah gambaran agregat pada tingkat perusahaan serta rekomendasi tindak lanjut. Skor per orang berada di ranah tenaga kesehatan, sama seperti hasil laboratorium.

Berapa banyak perusahaan di Indonesia yang sudah punya EAP?

Menurut Mercer Marsh Benefits, 48% perusahaan di Indonesia sudah memasukkan Employee Assistance Program sebagai bagian dukungan well-being karyawan. Namun cakupan asuransi untuk pengobatan penyakit mental masih tertinggal jauh di angka 18%.

Apa risiko mengabaikan gap ini bagi perusahaan?

Risiko terbesarnya ada pada retensi. Data yang sama menunjukkan 62% karyawan yang sedang mencari pekerjaan lain merasa stres hampir setiap hari di tempat kerja. Pada mereka yang tidak sedang mencari, angkanya hanya 24%.

Gap 16 poin itu bukan masalah anggaran, melainkan masalah alur kerja. Aksesmedika menyediakan kuesioner skrining di dalam anamnesa MCU beserta pemisahan hak akses per peran. HR melihat sebaran risiko pada tingkat perusahaan, sementara skor individu tetap berada di sisi dokter. Cara membaca laporan agregat semacam ini untuk kebutuhan direksi dibahas di executive summary hasil MCU.

Sumber

  • Mercer Marsh Benefits, Indonesia Health Benefits Study 2025
  • Self-Reporting Questionnaire 20 (SRQ-20), World Health Organization

Kelola Medical Check Up karyawan tanpa kertas dan tanpa rekap manual

Satu platform untuk perusahaan dan penyedia lab, dari penjadwalan sampai laporan.

Konsultasi gratis MCU digital →