Beranda › Blog › Hasil & Parameter Lab

· 5 menit baca · Ella Pratiwi

SRQ-20: Kuesioner Skrining Kesehatan Mental di MCU

SRQ-20 adalah kuesioner 20 pertanyaan untuk skrining kesehatan mental dalam MCU. Pahami cara skoringnya, arti ambang 6, dan batas kerahasiaan jawabannya.


SRQ-20: Kuesioner Skrining Kesehatan Mental di MCU

Sebagian paket MCU kini menyertakan lembar berisi dua puluh pertanyaan ya atau tidak tentang perasaan dan keluhan sehari-hari. Lembar itu adalah SRQ-20, dan banyak peserta mengisinya tanpa tahu akan diapakan jawabannya. Padahal cara kerjanya cukup sederhana untuk dipahami.

Yang dibahas:

  • Apa itu SRQ-20 dan dari mana instrumen ini berasal
  • Cara skoringnya dan arti ambang batas 6
  • Beda SRQ-20 dengan SRQ-29
  • Batas kerahasiaan yang seharusnya berlaku atas jawaban Anda

Apa Itu SRQ-20

SRQ adalah singkatan dari Self-Reporting Questionnaire, instrumen skrining yang dikembangkan WHO untuk mendeteksi gangguan mental emosional di layanan kesehatan umum. Versi 20 butir adalah yang paling banyak dipakai, termasuk di Indonesia lewat survei kesehatan nasional.

Bentuknya sengaja dibuat sesederhana mungkin. Setiap butir dijawab ya atau tidak, mengacu pada apa yang dirasakan dalam 30 hari terakhir, dan tidak ada butir yang membutuhkan pengetahuan medis untuk menjawabnya.

Pertanyaannya mencakup keluhan yang terasa fisik maupun yang terasa emosional, misalnya sakit kepala, sulit tidur, mudah lelah, sulit berpikir jernih, merasa tidak bahagia, atau kehilangan minat. Campuran ini disengaja, karena distres psikologis pada banyak orang muncul lebih dulu sebagai keluhan tubuh. Keluhan otot dan sendi sendiri punya kuesioner terpisah, yaitu Nordic Body Map.

Cara Skoringnya

Skoringnya adalah penjumlahan sederhana. Setiap jawaban ya bernilai satu poin, jawaban tidak bernilai nol, sehingga skor total berkisar dari 0 sampai 20.

SkorInterpretasi umum
0 sampai 5Dalam batas normal
6 ke atasTerindikasi gangguan mental emosional atau distres

Ambang 6 inilah yang dipakai secara luas di Indonesia, mengikuti titik potong yang digunakan survei kesehatan nasional. Perlu dicatat bahwa ambang ini bukan angka universal, karena beberapa penelitian di negara lain memakai titik potong berbeda sesuai populasinya.

Selain skor total, jawaban sering dikelompokkan ke beberapa gambaran deskriptif seperti gejala depresi, cemas, somatik, kognitif, dan penurunan energi. Kelompok ini membantu dokter melihat arah keluhan, tapi bukan diagnosis dan tidak dijumlahkan menjadi skor tersendiri.

Instrumen seperti ini paling berguna kalau skoringnya dihitung sistem secara konsisten, bukan dijumlahkan manual di lembar kertas yang rawan salah hitung. Pelajari lebih lanjut →

Beda SRQ-20 dan SRQ-29

Sebagian klinik memakai versi yang lebih panjang. Perbedaannya bukan pada dua puluh butir pertama, yang identik di kedua versi.

SRQ-29 menambahkan sembilan butir yang dinilai secara terpisah:

  • Butir 21 menyaring kemungkinan masalah penggunaan alkohol atau napza
  • Butir 22 sampai 24 menyaring kemungkinan gejala psikotik
  • Butir 25 sampai 29 menyaring kemungkinan gejala terkait pengalaman traumatis

Kelompok tambahan ini tidak dijumlahkan ke skor inti. Masing-masing berdiri sendiri, dan satu jawaban ya saja sudah cukup untuk menandainya sebagai temuan yang perlu ditelusuri.

Karena itu seseorang bisa punya skor inti di bawah 6 tapi tetap memiliki temuan pada kelompok tambahan. Keduanya dibaca terpisah, bukan saling meniadakan.

Satu hal yang sering ditanyakan peserta adalah rentang waktu yang dimaksud. SRQ menanyakan kondisi dalam 30 hari terakhir, bukan seumur hidup dan bukan pula hari itu saja. Peserta yang sedang melewati masa sulit sementara, misalnya baru kehilangan anggota keluarga, wajar mendapat skor lebih tinggi dari biasanya. Itu justru bekerja sesuai maksudnya, karena distres yang sedang berlangsung memang perlu diketahui. Karena kondisinya bisa berubah, skrining ini juga lebih bermakna kalau diulang pada siklus MCU berikutnya daripada dibaca sebagai penilaian tetap.

Kerahasiaan yang Seharusnya Berlaku

Ini bagian yang paling sering diabaikan, dan paling penting bagi peserta.

Butir SRQ mencakup hal yang sangat pribadi, termasuk pertanyaan tentang pikiran mengakhiri hidup. Dokumen yang dipegang HR maupun peserta seharusnya hanya memuat kesimpulan, misalnya skor dan interpretasinya, bukan daftar jawaban butir demi butir.

Prinsip yang berlaku sama seperti hasil pemeriksaan medis lain: atasan langsung cukup mengetahui ada tidaknya rekomendasi tindak lanjut, bukan isinya. Pembahasan lebih luas soal batas ini ada di cara HR menindaklanjuti hasil MCU.

Penting: kalau Anda menjawab ya pada butir tentang pikiran mengakhiri hidup, sampaikan langsung ke dokter pemeriksa saat itu juga, atau hubungi tenaga kesehatan jiwa di puskesmas maupun rumah sakit terdekat. Butir itu tidak untuk menunggu jadwal laporan MCU terbit.

Berbeda dari parameter seperti BMI atau tekanan darah yang bisa dihitung ulang sendiri lewat alat cek kesehatan gratis, SRQ tidak disediakan sebagai kalkulator mandiri. Kuesioner kesehatan jiwa perlu didampingi tenaga yang bisa menindaklanjuti jawabannya, bukan diisi sendiri lalu ditinggalkan tanpa arahan.

Bagi perusahaan, kerahasiaan bukan sekadar kepatuhan. Skrining yang dijawab tidak jujur karena peserta takut jawabannya terbaca atasan hanya menghasilkan laporan yang terlihat rapi tanpa menolong siapa pun.

Tanya Jawab

Apakah skor SRQ-20 tinggi berarti saya sakit jiwa?

Tidak. SRQ-20 adalah alat skrining, bukan diagnosis. Skor di atas ambang berarti ada indikasi distres yang perlu ditelusuri lebih lanjut oleh tenaga profesional, bukan kesimpulan tentang penyakit tertentu.

Apakah jawaban SRQ saya bisa dilihat HR?

Seharusnya tidak. Butir SRQ mencakup hal yang sangat pribadi, termasuk pikiran mengakhiri hidup, sehingga laporan yang dipegang HR dan peserta idealnya hanya memuat kesimpulan, bukan jawaban butir demi butir.

Apa beda SRQ-20 dengan SRQ-29?

SRQ-29 memuat 20 butir yang sama ditambah sembilan butir untuk penggunaan alkohol dan napza, gejala psikotik, serta gejala PTSD. Kelompok tambahan itu dinilai terpisah, bukan dijumlahkan ke skor inti.

Kenapa jawaban jujur penting padahal ini dipakai perusahaan?

Karena skrining yang dijawab tidak jujur hanya menghasilkan laporan yang terlihat rapi tanpa membantu siapa pun. Perlindungannya ada pada aturan kerahasiaan, yaitu detail jawaban tidak boleh sampai ke atasan langsung.

Apa yang terjadi setelah skor saya di atas ambang?

Langkah lazimnya adalah wawancara lanjutan oleh dokter atau rujukan ke tenaga kesehatan jiwa. Skrining hanya menandai siapa yang perlu diajak bicara lebih dalam, bukan menentukan penanganannya.

Skrining kesehatan mental hanya bermanfaat kalau tindak lanjutnya benar-benar berjalan, bukan berhenti sebagai satu baris di laporan. Aksesmedika mencetak hasil SRQ sebagai kesimpulan saja pada dokumen yang dipegang HR dan peserta, sementara rincian jawabannya hanya terlihat di layar internal dokter pemeriksa, sesuai batas kerahasiaan yang dibahas di regulasi MCU karyawan di Indonesia. Gambaran pasar tentang seberapa jarang skrining ini disediakan perusahaan ada di gap skrining kesehatan mental karyawan.

Jalur rujukan yang harus berdiri sebelum kuesioner ini dibagikan dibahas di 5 komponen program kesehatan mental karyawan.

Sumber

  • Self-Reporting Questionnaire 20 (SRQ-20), World Health Organization

Hasil MCU yang langsung bisa dibaca, tanpa perlu latar belakang medis

Setiap parameter otomatis diberi status dan penjelasan, jadi tindak lanjutnya jelas.

Konsultasi gratis MCU digital →