Beranda › Blog › Hasil & Parameter Lab
Skor Kardiovaskular Jakarta (SKJ): Apa Itu Jakarta Cardiovascular Score dalam MCU
Skor SKJ atau Jakarta Cardiovascular Score dalam laporan MCU: tujuh faktor yang dihitung, cara membaca kategori risikonya, dan bedanya dengan skor Framingham.
Karyawan yang membuka laporan MCU kadang menemukan baris “Jakarta Cardiovascular Score” dengan kategori risiko tertentu, tanpa penjelasan lebih lanjut soal apa artinya. Istilah ini memang jarang dijelaskan di laporan kesehatan pada umumnya.
Padahal, skor ini cukup umum dipakai sebagai alat skrining di Indonesia, hanya kurang dikenal dibanding skor kolesterol atau tekanan darah biasa. Kalau Anda hanya ingin menghitung angkanya sendiri, langsung saja ke kalkulator Skor Kardiovaskular Jakarta.
Yang dibahas:
- Apa itu Jakarta Cardiovascular Score dan asal-usulnya
- Tujuh faktor yang dihitung dalam skor ini
- Cara membaca kategori risiko rendah, sedang, dan tinggi
- Beda Jakarta Cardiovascular Score dengan skor Framingham
Apa Itu Jakarta Cardiovascular Score
Jakarta Cardiovascular Score, atau dikenal juga sebagai Skor Kardiovaskular Jakarta (SKJ), adalah alat skrining untuk memperkirakan risiko penyakit jantung dalam 10 tahun ke depan. Skor ini dikembangkan sebagai adaptasi Indonesia dari skor risiko Framingham yang lebih dulu dikenal secara internasional.
Keunggulan utamanya, skor ini tidak memerlukan hasil kolesterol darah. Angkanya bisa dihitung hanya dari data yang biasanya sudah tersedia saat pemeriksaan fisik dan tanda vital. Karena itu, skor ini praktis dipakai sebagai skrining awal, termasuk dalam laporan MCU rutin karyawan.
Kalau hasil kolesterolnya sudah ada dan yang ditandai justru LDL, langkah menurunkannya dirinci di 10 cara menurunkan kolesterol tanpa obat.
Tujuh Faktor yang Dihitung dalam Skor Ini
Setiap faktor berikut punya kontribusi poin sendiri, yang kemudian dijumlahkan menjadi skor total.
| Faktor | Yang Dinilai |
|---|---|
| Usia | Poin naik seiring bertambahnya usia, valid untuk rentang 25-64 tahun |
| Jenis kelamin | Laki-laki mendapat poin tambahan dibanding perempuan |
| Tekanan darah | Diambil dari sistolik atau diastolik yang berada di kategori lebih tinggi |
| BMI | Poin tambahan mulai dari kategori overweight ke atas |
| Status merokok | Perokok aktif mendapat poin tertinggi, dibanding bekas perokok atau tidak merokok |
| Riwayat diabetes | Poin tambahan bagi yang punya riwayat diabetes |
| Tingkat aktivitas fisik | Semakin aktif, semakin rendah poinnya, bahkan bisa mengurangi skor total |
Aksesmedika menghitung skor ini otomatis dari data vital sign dan anamnesa yang sudah diisi saat MCU, tanpa perlu input tambahan dari dokter. Pelajari lebih lanjut →
Kalau Anda ingin memperkirakan angkanya sendiri sebelum laporan MCU keluar, tersedia kalkulator risiko penyakit jantung 10 tahun yang memakai faktor risiko serupa.
Cara Membaca Kategori Risiko
Lantas, bagaimana membaca skor totalnya? Skor ini diterjemahkan menjadi tiga kategori risiko, seperti pada tabel berikut.
| Skor Total | Kategori | Perkiraan Risiko 10 Tahun |
|---|---|---|
| ≤ 1 | Rendah | Di bawah 10% |
| 2 - 4 | Sedang | 10% - 20% |
| ≥ 5 | Tinggi | Di atas 20% |
Penting: kategori tinggi tidak berarti seseorang pasti akan terkena penyakit jantung dalam 10 tahun ke depan. Sebagai alat skrining, skor ini hanya memperkirakan probabilitas dan tidak bisa dijadikan diagnosis pasti. Meski begitu, hasil ini tetap perlu ditindaklanjuti dengan konsultasi dokter.
Beda Jakarta Cardiovascular Score dengan Skor Framingham
Beberapa laporan MCU menampilkan kedua skor ini sekaligus, yang kadang membingungkan karena keduanya sama-sama menghitung risiko kardiovaskular.
- Skor Framingham membutuhkan hasil kolesterol total dan HDL, dan valid untuk usia 30-74 tahun, sehingga lebih akurat kalau data laboratorium lengkap
- Jakarta Cardiovascular Score tidak memerlukan kolesterol dan valid untuk usia 25-64 tahun, sehingga tetap bisa dihitung meskipun pemeriksaan kolesterol belum dilakukan
Jadi, kedua skor ini saling melengkapi. Dua input yang dipakai keduanya, yaitu tekanan darah dan BMI, dibahas di tekanan darah normal dan hipertensi serta BMI dan overweight pada karyawan. Untuk konteks pemeriksaan jantung lainnya dalam MCU, baca juga EKG dalam MCU Karyawan: Mendeteksi Masalah Jantung Lebih Awal. Kalau dokter meminta uji latih jantung, persiapan dan cara membaca hasilnya ada di treadmill test MCU.
Cara kerja skor Framingham sendiri, termasuk tujuh komponen dan batas usianya, dibahas terpisah di skor Framingham dan cara kerja hitungan risiko jantung.
Faktor Mana yang Paling Bisa Diubah
Dari tujuh faktor yang dihitung, sebagian bisa diubah dan sebagian lagi tidak. Memilah keduanya membantu Anda menentukan apa yang realistis dikerjakan setelah melihat skor sendiri.
| Faktor | Bisa diubah? |
|---|---|
| Usia | Tidak |
| Jenis kelamin | Tidak |
| Status merokok | Ya, dan dampaknya paling besar |
| Tekanan darah | Ya, lewat pengobatan dan gaya hidup |
| BMI | Ya, secara bertahap |
| Riwayat diabetes | Terkendali, meski riwayatnya tetap tercatat |
| Tingkat aktivitas fisik | Ya, dan ini satu-satunya yang bisa mengurangi skor |
Dua baris pertama sering membuat orang berhenti membaca skornya. Padahal, justru karena usia tidak bisa diubah, lima faktor lainnya jadi lebih menentukan seiring bertambahnya umur. Hubungan antara usia dan biaya kesehatan ini dibahas di usia 30-49, jendela kritis biaya kesehatan karyawan.
Untuk tiga faktor yang paling menentukan, yaitu tekanan darah, BMI, dan diabetes, langkah 12 bulannya ada di Playbook Pasca-MCU.
Catatan bagi HR: untuk program kesehatan perusahaan, distribusi skor lebih berguna daripada rata-ratanya. Perhatikan berapa banyak karyawan di kategori tinggi. Pasalnya, kelompok itulah yang paling menentukan biaya kesehatan beberapa tahun ke depan.
Tanya Jawab
Apa itu Jakarta Cardiovascular Score?
Jakarta Cardiovascular Score, atau Skor Kardiovaskular Jakarta (SKJ), adalah adaptasi Indonesia dari skor risiko Framingham untuk memperkirakan risiko penyakit jantung dalam 10 tahun ke depan. Bedanya dengan Framingham, skor ini tidak memerlukan hasil kolesterol darah.
Apa saja faktor yang dihitung dalam Jakarta Cardiovascular Score?
Tujuh faktor: usia, jenis kelamin, tekanan darah, BMI, status merokok, riwayat diabetes, dan tingkat aktivitas fisik. Setiap faktor punya nilai poin yang dijumlahkan menjadi skor total.
Apa beda Jakarta Cardiovascular Score dengan skor Framingham?
Skor Framingham membutuhkan hasil kolesterol total dan HDL, valid untuk usia 30-74 tahun. Sebaliknya, Jakarta Cardiovascular Score tidak memerlukan kolesterol dan valid untuk usia 25-64 tahun, sehingga lebih praktis untuk skrining awal.
Apakah skor risiko tinggi berarti pasti terkena penyakit jantung?
Tidak. Skor ini adalah alat skrining untuk memperkirakan probabilitas risiko dalam 10 tahun, bukan diagnosis pasti. Meski begitu, hasil kategori tinggi tetap perlu ditindaklanjuti dengan konsultasi dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Memahami angka di laporan MCU seharusnya tidak butuh latar belakang medis. Karena itu, Aksesmedika menampilkan Jakarta Cardiovascular Score dan Framingham secara otomatis di laporan hasil MCU, lengkap dengan kategori risikonya. Karyawan dan HR pun bisa langsung memahami artinya tanpa perlu menghitung manual atau menerka-nerka.
Sumber
- Jakarta Cardiovascular Score
- Framingham Risk Score, Framingham Heart Study
Hasil MCU yang langsung bisa dibaca, tanpa perlu latar belakang medis
Setiap parameter otomatis diberi status dan penjelasan, jadi tindak lanjutnya jelas.